Rabu, 17 Agustus 2011

Teruntuk Bapak Arief Santoso, di Surga.



“Teruntuk Bapak Arief Santoso, di surga.
Selamat pagi Ayahandaku yang ngangenin, apakabar Pah? :)
Tentu bahagia pasti di sana yah.”

Sapaan saya pagi ini untuk Ayahanda yang genap 13 tahun sudah berpulang ke sisi Tuhan.
Saya selalu bingung mau menulis tentang ia, karena terlalu banyak hal yang membuat saya rindu bukan kepalang. Meski saya hanya punya waktu 10 tahun untuk bermanja manja padanya, tapi berjuta kenangan yang ia tinggalkan di hati saya.

Mari saya perkenalkan saja, ia lahir di sebuah keluarga Kristiani di Salatiga. Lahir tahun 1958 pada 4 Juni.
Saya ingat cerita pertama kali ia dipertemukan dengan jodohnya, yaitu Ibu saya. Ia kala itu adalah seorang penganut agama Kristen, Ibu saya adalah wanita yang lahir di keluarga Muslim yang taat beragama.  Keluarga Ibu saya tentunya tidak setuju dengan kedekatan mereka, apalagi Nenek buyut saya. Dengan tegas ia mengatakan Ibu saya tidak boleh berhubungan dengan orang “kafir”. Maklum orang jaman dulu pikirannya sangat keras soal agama. Bukan Ayah saya namanya kalau mudah menyerah, Ia tetap bertekad merebut hati keluarga Ibu saya. Sampai akhirnya ia memutuskan ingin menikahi Ibu saya, ia berniat menjadi mualaf. Meski niat baiknya itu disangsikan oleh keluarga besar Ibu saya, ia tetap tidak peduli selama Ibu saya mau menikah dengannya. Semua ujian itu akhirnya terlewati, dan setelah menikah Ayah saya menjadi menantu yang paling disayang oleh keluarga besar Ibu saya. Kesungguhan hati dan tekadnya memikat hati semua orang. Dan ia menjadi mualaf yang sangat taat.

Setelah menikah beberapa tahun hadirlah saya, anak pertama dari keluarga kecil mereka. Saya diberi nama Arsianty Andhany, Arsianty berasal dari perpaduan indah nama kedua orang tua saya Arif Santoso dan Metty Sunaryati juga Andhany yang berasal dari bulan kelahiran saya Ramadhan. Banyak cerita saat saya kecil yang membuat saya menyadari bahwa saya kecil adalah anak yang amat sangat menyusahkan. Saya sering merengek menangis tengah malam jam 2 tidak mau tidur sampai membuat Ayah saya rutin malam hari mengajak saya keliling lapangan di komplek rumah sampai saya terlelap. Saya anak yang manja sekali pada Ayah saya, sampai ke sekolah dulu harus dianter ke depan kelas sambil menggandeng tangannya. Harus, sebuah keharusan menggandeng tangannya pagi hari dan minta dipakaikan dasi.
Saya juga  ingat betul setiap pagi, kegiatan rutin Ayah saya sebelum mengantar saya sekolah adalah membuatkan Ibu saya teh, menyiapkan baju sekolah anak-anaknya juga susu, kadang juga memasak sarapan untuk anak-anak dan Ibu saya. Tapi saya ingat lebih sering saya diajaknya ke warteg dekat rumah, ia ajak saya makan di warteg sambil ia berbincang pagi bersama para tukang becak yang makan juga di sana setiap hari. Ia orang yang selalu dekat dengan siapa saja, tak peduli lah tukang becak atau siapa pun, ia selalu menganggap mereka teman baik. Ia menjadi seseorang yang sangat disegani di lingkungan rumah saya, siapa yang tidak kenal pak Arief Santoso, berarti dia ga gaul tuh :D


Ia juga sering sekali mengajak kami anak-anaknya ke supermarket dan mengajak teman-teman main kami di gang rumah. Diajaklah kami ke supermarket membeli apapun yang kami mau, seperti anak panti asuhan kami semua memilih makanan yang sama. Kadang setelah itu kami diajak ke Ragunan hingga sore, sampai orang tua teman-teman main saya mengira anak-anaknya diculik. Padahal diajak Ayah saya ke Ragunan tanpa sepengetahuan mereka -___-. Kawan saya semua suka sekali berada di dekat Ayah saya, anak kecil mana yang tidak senang diajak jajan dan jalan jalan. 

Sampai beranjak umur 9 tahun, saya masih menjadi anak yang sangat manja pada Ayah saya, meskipun kala itu saya adalah kakak dari 3 adik perempuan. Memang Ayah saja memanjakan anak-anaknya, umur 9 tahun itu akhirnya saya diajarkan mandiri. Saya bersekolah cukup jauh, sekitar setengah jam naik Angkor, sebagai anak manja saya takut disuruh naik angkot ke sekolah, tapi Ayah saya selalu bilang “mba, kamu udah gede bisa kok berangkat sendiri”. Beberapa bulan saya belajar naik angkot sendiri, Ayah saya tidak tega rasa-rasanya dan akhirnya saya difasilitasi dengan jemputan sekolah seperti kawan saya yang lain. Saya tidak pernah dimanja dalam segi materi, saya tau betul arti sederhana. Keluarga kami keluarga sederhana, Alhamdulillah keluarga yang berkecukupan. Cukup untuk makan, cukup untuk sekolah, cukup untuk jalan-jalan. Cukup untuk bisa terus bersyukur.
Sejak SD saya dan 1 adik saya disekolahkan di sekolah berkurikulum Islam, di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Ibu saya pernah bilang alasan Ayah saya menyekolahkan kami di sana, karena Ayah saya merasa bukan Ayah yang bisa mengajarkan agama dengan baik. Karena ia mualaf dan ia belum menguasai Islam dengan sempurna. Ia bilang “ Anak-anak harus ngerti agama, biar nanti kalau orangtuanya sudah tidak ada mereka tau cara mendoakan orang tuanya, bisa jaga diri dan tetap berpegang pada aturan agama ”.  Ya memang berguna sekali pah buat kami, tetap membuat kami tawakal Alhamdulillah :)

Dan mungkin saya bisa sedikit bercerita tentang kepergian Ayah saya, meskipun menulis ini pasti dibarengi isak tangis rindu saya hiks :’D

Malam itu 16 Agustus 1998, saya rewel bukan main karena sakit gigi. Malam itu Ayah saya mengurus saya dengan sangat telaten. Sampai saya yang saat itu berumur 10 tahun layaknya seperti bocah 3 tahun merengek semalaman. Rencananya lIburan 17 Agustus itu kita mau menjenguk Nenek dan Kakek yang tinggal di Puncak, Bogor. Karena sakit gigi dan saya mau ikut upacara saya bilang tidak mau ikut. Ayah saya bilang “kamu mau sama siapa di rumah ga ada orang, Nenek Kakek kamu kasian ga dijenguk “. Dengan agak terpaksa saya akhirnya ikut, di sana kami sempat jalan jalan ke daerah Cibodas. Kami berangkat ber11, lalu om saya, Nunu menyusul dari Jakarta. Ia niat berpamitan pada Nenek dan Kakek saya karena keesokan harinya akan ke Kuningan mengantar kawannya yang nikahan di Kuningan.
Setelah selesai temu kangen dengan Kakek Nenek, kami pulang ke Jakarta. Satu mobil ber12 kami meluncur pulang. Dan di tengah jalan di sekitar Tol Sentul mobil kami mengalami kecelakaan. Kejadian kecelakaan begitu cepat mobil kamu terbolak balik kea rah tol berlawanan dengan sangat keras. Beruntung saya dan beberapa anggota keluarga selamat. Hanya saja kami kehilangan 3 orang yang kami cintai itu. Om Nunu dan sepupu saya berumur 3 tahun Adisty dinyatakan meninggal di rumah sakit PMI Bogor. Di depan mata saya 2 orang itu pergi. 

Sebelumnya di TKP maghrib sore itu saya lihat Ayah saya hanya memandang kea rah langit tanpa bergeming, sepertinya gegar otak. Saya hanya bisa panik. Ia dibawa ke rumah sakit UKI dan keadaan Ayah saya sedang kritis, saya hanya berani melihatnya dari pintu, saat itu pukul 9.30 saya hanya berdiri melihat dokter yang panic sIbuk menangani Ayah saya. Saya akhirnya dibawa pulang ke rumah karena takut kelelahan. Sebelum pulang saya bertanya apa Ayah saya akan baik-baik saja. Semua bilang ia pasti baik-baik saja. Dengan teramat sedih pagi hari setelah itu saya dikerubungi saudara-saudara. Mereka hanya bilang “Jangan sedih ya, Papa kamu udah ga ada semalam jam 10 meninggal dunia”. Sedih bukan main saya menangis sejadi-jadinya. Saya menyesal betul kenapa malam itu saya pulang, kenapa saya hanya berani berdiri di depan pintu tanpa melihat Ayah saya terlebih dahulu dari dekat. Karena itu kali terakhir saya melihatnya. Itu kali terakhir saya bisa melihat ia bernafas.  Lalu saya di bawa ke rumah saya di kawasan Pamulang karena sebelumnya saya di rumah Nenek di Jakarta timur. Saya menyusul Jenazah Ayah saya yang dimandikan dan di shalatkan di sana. Di masjid guru saya membukakan kain kafan yang sudah diikatkan, saya harus melihat wajah Ayah saya untuk terakhir kali. Subhanallah, Papa senyum :’)
Artinya dia pergi dengan tenang, InsyaAllah.

Hari itu dia dimakamkan bersamaan dengan Om Nunu dan Adisty di makam yang bersebelahan satu sama lain. Saya ingat kala itu yang hadir banyak sekali, banyak sampai saya tidak bisa hitung berapa bis dan mobil yang datang ke sana, sampai para tukang becak yang dulu akrab makan bareng Ayah saya di warteg datang jauh dari Pamulang ke Jakarta Timur. Saya yakin, Ayah saya orang baik. Ia diantar oleh kerabat dan kawan yang sungguh mencintai dia. Menghargai kebaikannya dan mereka kehilangan Ayah saya juga. Dan saya yakin Ayah saya di surga. Ia seorang mualaf taat yang baru 11 tahun menjadi muslim. Ibaratnya ia seperti anak yang baru 11 tahun lahir. Semoga Allah menjaganya di surga sana :)

Semoga Allah menjaga Om Nunu dan Adisty juga di sana. Selamat jalan kalian, yang tenang di sana :)

#170898

Tidak ada komentar:

Posting Komentar