Minggu, 10 April 2016

Cerita Lain Tentang 5 Tahun Kita


5 tahun saya dan pria ini menghadapi naik turunnya hubungan. Sampai pada titik saya pernah meninggalkan dia untuk laki-laki lain. Bukan hanya sekali, tapi dua kali. Di beberapa momen, saya pernah merasa tidak dianggap oleh pria ini. Karena sikapnya yang sangat cuek, jadwalnya yang padat dan belum lagi jarak kami Jakarta-Bandung yang membuat saya lelah menghadapi dia yang sering tanpa kabar. Seringkali marah berlama-lama, tidak mau berbicara dengan saya 1 minggu, 2 minggu bahkan satu bulan jika ada masalah
2 tahun lalu, ego saya berbicara bahwa pria ini tidak ada niat baik. Tidak seperti perkataannya di awal hubungan ini. Mana ada masalah dalam hubungan yang tanpa penjelasan. Saya menyerah pada keadaan. Pernah dia berusaha untuk memberikan penjelasan sikapnya itu, bahwa dia ingin saya berpikir setiap ada masalah. Karena saya keras kepala, dia merasa dengan diam itu cara dia membuat saya berpikir. Ego saya berkata tidak, saya butuh bukti.

Setelah melalui 2 hubungan dengan laki-laki lain, saya akhirnya mendapat perbandingan. Dari pola pikir, cara bersikap dengan orang lain sampai tanggung jawab. Setelah berpikir beberapa bulan, akhirnya saya memberikan dia kesempatan untuk meyakinkan saya lagi. Kami menjalani hubungan sedikit sembunyi-sembunyi, lantaran kami takut takabbur dan hubungannya tidak bisa berhasil lagi. 3 bulan pertama, kami masih melalui perdebatan yang sama seperti terdahulu. Bulan berikutnya semakin lancar, komitmen dan usaha yang dia tunjukkan membuat saya lebih santai.

3 bulan lalu, saya dan dia melalui sebuah perbincangan sangat dalam. Dia ingin saya bercerita tentang apa yang saya lalui sepanjang saya bersama laki-laki lain. Begitu pun saya ingin dia bercerita hal yang sama selama tidak bersama saya. Menguraikan kecurigaan yang tertanam di pikiran selama hubungan kami berdua. Di momen itu setelah semua hal kami ceritakan satu sama lain tanpa ada yang ditutupi, kami sepakat untuk menerima segala kekurangan dan memaafkan segala kesalahan yang terjadi 5 tahun belakangan. Sepakat memulai hubungan baru.

Di titik itu saya terharu, di titik itu saya berpikir “Serius nih dia sebegitu menerima saya apa adanya?”. Sejak saat itu, dia bersikap seakan takut kehilangan saya lagi. Setiap gesture yang dia tunjukkan amat manis, jauh lebih manis dari 5 tahun yang telah dijalani. Dia akhir-akhir ini lebih sering memeluk saya dan berkata ‘terima kasih’. Dia meluangkan lagi waktunya untuk membawa saya ke keluarganya atau teman kerjanya seperti dulu. Dia menyuguhkan saya susu kalau sampai di rumahnya, menyediakan makanan & minuman lengkap di meja makan. Dia masih dengan sabar meladeni telpon saya tiap pagi dan malam. 

Saya seperti menemukan ‘rumah’ yang saya selama ini cari. Dulu belum seyakin dan sebersyukur ini, tapi kali ini insyaAllah saya yakin. InsyaAllah kami sudah punya keyakinan yang sama.

Rumah saya ada di setiap pelukan hangatnya, tatapan manisnya, genggaman erat tangannya, kecupan mesra bibirnya dan ketenangan dalam suaranya.
Rumah tempat saya ingin kembali, ingin jatuh cinta sekali lagi dan lagi.

Tempatmu Di Tempatku

Tempatmu ada di antara lagu-lagu sendu menyampaikan peluh.
Tempatmu ada di antara rindu yang belum juga tersampaikan karena waktu.
Tempatmu ada di antara ribuan kayuh yang ditempuh untuk aku bisa berlabuh.
Tempatmu ada di antara cerita penuh suka cita yang kusampaikan di perbincangan lewat waktu subuh.