Selasa, 27 Desember 2011

Desember akan berakhir, saya pun akan pergi

Hmmm, sudah lama tidak bercerita banyak di sini. Mungkin karena pekerjaan saya di agency ini membunuh sekali. Membunuh sekali sodara-sodara! *drama

Tahun 2011 akan berakhir, tidak banyak yang saya ceritakan mengenai 1 tahun ini. Suka duka anak agency, percintaan saya dengan dunia musik diselanya pun tak tersalurkan.
Baiklah, mari saya ceritakan saeutik (translate: sedikit). 

Saya menikmati galau-galauan drama di advertising agency sebagai junior copywriter merangkap social media manager. Pegang 1 brand besar Unilever, deodoran bodyspray. (tebak tebak tebak??).





Saya bekerja di Digital Agency ternama Bubu.com. Bangga karena banyak banget belajar di sini 1 tahun 3 bulan ini. Dari yang ga ngerti sama sekali tentang Digital sampe paham. Punya keluarga yang tidak kenal lelah kasih semangat biar ga down dimaki klien, begadang dikejar deadline ga pulang-pulang dan kebersamaannya yang paling the best.




Ngerjain event banting tulang (sampe ada yang HP Androidnya ilang :p), mantengin kaskus 2 malem ga pake tidur, Pulang jam setengah 5 subuh buat present jam 10 pagi. Well ya, Agency kaya gitu emang. Saya menikmatinya :p

Dan terlebih lagi klien puas dengan kerja keras kita. Memang bangga pada saat campaign yang kita kerjain sukses dan klien melemparkan senyum bahagia.
Saya senang sekali berada di tim ini, di kantor ini. Sayangnya ada beberapa hal yang membuat saya harus pindah ke tempat lain mencari ilmu lain. Januari besok saya akan meninggalkan Bubu. Sedih :'(

6 hari lagi, saya akan hilang dari sini, nama saya bukan lagi pegawai kantor ini. i don't know, it's just the hardest part, let go of our togetherness.

To all Woofers at Bubu, someday we'll meet again. Keep barking WOOF! :)

 

Sabtu, 05 November 2011

Foto (Sok) Manis

Pria berotot yang terlihat sangar ini pacar saya tersayang, pacar yang super duper pengertian, sabar dan senantiasa hobi ngejayus karena lawakannya suka garing. Tapi saya tetap suka :p


Saya suka sekali foto ini, (sok) manis :)

Selasa, 27 September 2011

About relationship

There's many things that i didn't get in my previous relationship. This is such a sensitive topic for some people indeed. But i don't mind to talk about the past, our past lovers. It's something that we can learn something from. I lost 3 good and some of bad lovers, right now i have a boy friend. A really good one. A gentle, a caring and nice person i've ever had. Some people say about good and best relationship is:
  1. When you 2 can act like a lovers and best friends
  2. Have an unexpected hugs and random kisses all the time
  3. When you 2 can completely act yourself and they can still love you for who you are
And i do have this kind of relationship with my bf right now :)
And it's make me glad.


"A good relationship isnt when perfect couple comes together, but imperfect couple learns to enjoy their differences."


And thanks God for sent a great man beside me :)

Rabu, 17 Agustus 2011

Our blog project for MUSIC: The Singing Owls

The Singing Owls

Silahkan di klik, The Singing Owls adalah blog yang berisi bahasan iseng tentang musik. Projek iseng saya dan 3 kawan saya, Sida Widhy dan Iqbal. 

Kecintaan kami pada musik membuat kami menelurkan wadah ini, wadah di mana kami bisa mengasah cara menulis kami dan menilai musik yang kami dengarkan sendiri. Musik adalah bahasa yang universal memang. Maka dari itu blog ini untuk universal, semuakalangan :)

Enjoy!

Teruntuk Bapak Arief Santoso, di Surga.



“Teruntuk Bapak Arief Santoso, di surga.
Selamat pagi Ayahandaku yang ngangenin, apakabar Pah? :)
Tentu bahagia pasti di sana yah.”

Sapaan saya pagi ini untuk Ayahanda yang genap 13 tahun sudah berpulang ke sisi Tuhan.
Saya selalu bingung mau menulis tentang ia, karena terlalu banyak hal yang membuat saya rindu bukan kepalang. Meski saya hanya punya waktu 10 tahun untuk bermanja manja padanya, tapi berjuta kenangan yang ia tinggalkan di hati saya.

Mari saya perkenalkan saja, ia lahir di sebuah keluarga Kristiani di Salatiga. Lahir tahun 1958 pada 4 Juni.
Saya ingat cerita pertama kali ia dipertemukan dengan jodohnya, yaitu Ibu saya. Ia kala itu adalah seorang penganut agama Kristen, Ibu saya adalah wanita yang lahir di keluarga Muslim yang taat beragama.  Keluarga Ibu saya tentunya tidak setuju dengan kedekatan mereka, apalagi Nenek buyut saya. Dengan tegas ia mengatakan Ibu saya tidak boleh berhubungan dengan orang “kafir”. Maklum orang jaman dulu pikirannya sangat keras soal agama. Bukan Ayah saya namanya kalau mudah menyerah, Ia tetap bertekad merebut hati keluarga Ibu saya. Sampai akhirnya ia memutuskan ingin menikahi Ibu saya, ia berniat menjadi mualaf. Meski niat baiknya itu disangsikan oleh keluarga besar Ibu saya, ia tetap tidak peduli selama Ibu saya mau menikah dengannya. Semua ujian itu akhirnya terlewati, dan setelah menikah Ayah saya menjadi menantu yang paling disayang oleh keluarga besar Ibu saya. Kesungguhan hati dan tekadnya memikat hati semua orang. Dan ia menjadi mualaf yang sangat taat.

Setelah menikah beberapa tahun hadirlah saya, anak pertama dari keluarga kecil mereka. Saya diberi nama Arsianty Andhany, Arsianty berasal dari perpaduan indah nama kedua orang tua saya Arif Santoso dan Metty Sunaryati juga Andhany yang berasal dari bulan kelahiran saya Ramadhan. Banyak cerita saat saya kecil yang membuat saya menyadari bahwa saya kecil adalah anak yang amat sangat menyusahkan. Saya sering merengek menangis tengah malam jam 2 tidak mau tidur sampai membuat Ayah saya rutin malam hari mengajak saya keliling lapangan di komplek rumah sampai saya terlelap. Saya anak yang manja sekali pada Ayah saya, sampai ke sekolah dulu harus dianter ke depan kelas sambil menggandeng tangannya. Harus, sebuah keharusan menggandeng tangannya pagi hari dan minta dipakaikan dasi.
Saya juga  ingat betul setiap pagi, kegiatan rutin Ayah saya sebelum mengantar saya sekolah adalah membuatkan Ibu saya teh, menyiapkan baju sekolah anak-anaknya juga susu, kadang juga memasak sarapan untuk anak-anak dan Ibu saya. Tapi saya ingat lebih sering saya diajaknya ke warteg dekat rumah, ia ajak saya makan di warteg sambil ia berbincang pagi bersama para tukang becak yang makan juga di sana setiap hari. Ia orang yang selalu dekat dengan siapa saja, tak peduli lah tukang becak atau siapa pun, ia selalu menganggap mereka teman baik. Ia menjadi seseorang yang sangat disegani di lingkungan rumah saya, siapa yang tidak kenal pak Arief Santoso, berarti dia ga gaul tuh :D


Ia juga sering sekali mengajak kami anak-anaknya ke supermarket dan mengajak teman-teman main kami di gang rumah. Diajaklah kami ke supermarket membeli apapun yang kami mau, seperti anak panti asuhan kami semua memilih makanan yang sama. Kadang setelah itu kami diajak ke Ragunan hingga sore, sampai orang tua teman-teman main saya mengira anak-anaknya diculik. Padahal diajak Ayah saya ke Ragunan tanpa sepengetahuan mereka -___-. Kawan saya semua suka sekali berada di dekat Ayah saya, anak kecil mana yang tidak senang diajak jajan dan jalan jalan. 

Sampai beranjak umur 9 tahun, saya masih menjadi anak yang sangat manja pada Ayah saya, meskipun kala itu saya adalah kakak dari 3 adik perempuan. Memang Ayah saja memanjakan anak-anaknya, umur 9 tahun itu akhirnya saya diajarkan mandiri. Saya bersekolah cukup jauh, sekitar setengah jam naik Angkor, sebagai anak manja saya takut disuruh naik angkot ke sekolah, tapi Ayah saya selalu bilang “mba, kamu udah gede bisa kok berangkat sendiri”. Beberapa bulan saya belajar naik angkot sendiri, Ayah saya tidak tega rasa-rasanya dan akhirnya saya difasilitasi dengan jemputan sekolah seperti kawan saya yang lain. Saya tidak pernah dimanja dalam segi materi, saya tau betul arti sederhana. Keluarga kami keluarga sederhana, Alhamdulillah keluarga yang berkecukupan. Cukup untuk makan, cukup untuk sekolah, cukup untuk jalan-jalan. Cukup untuk bisa terus bersyukur.
Sejak SD saya dan 1 adik saya disekolahkan di sekolah berkurikulum Islam, di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Ibu saya pernah bilang alasan Ayah saya menyekolahkan kami di sana, karena Ayah saya merasa bukan Ayah yang bisa mengajarkan agama dengan baik. Karena ia mualaf dan ia belum menguasai Islam dengan sempurna. Ia bilang “ Anak-anak harus ngerti agama, biar nanti kalau orangtuanya sudah tidak ada mereka tau cara mendoakan orang tuanya, bisa jaga diri dan tetap berpegang pada aturan agama ”.  Ya memang berguna sekali pah buat kami, tetap membuat kami tawakal Alhamdulillah :)

Dan mungkin saya bisa sedikit bercerita tentang kepergian Ayah saya, meskipun menulis ini pasti dibarengi isak tangis rindu saya hiks :’D

Malam itu 16 Agustus 1998, saya rewel bukan main karena sakit gigi. Malam itu Ayah saya mengurus saya dengan sangat telaten. Sampai saya yang saat itu berumur 10 tahun layaknya seperti bocah 3 tahun merengek semalaman. Rencananya lIburan 17 Agustus itu kita mau menjenguk Nenek dan Kakek yang tinggal di Puncak, Bogor. Karena sakit gigi dan saya mau ikut upacara saya bilang tidak mau ikut. Ayah saya bilang “kamu mau sama siapa di rumah ga ada orang, Nenek Kakek kamu kasian ga dijenguk “. Dengan agak terpaksa saya akhirnya ikut, di sana kami sempat jalan jalan ke daerah Cibodas. Kami berangkat ber11, lalu om saya, Nunu menyusul dari Jakarta. Ia niat berpamitan pada Nenek dan Kakek saya karena keesokan harinya akan ke Kuningan mengantar kawannya yang nikahan di Kuningan.
Setelah selesai temu kangen dengan Kakek Nenek, kami pulang ke Jakarta. Satu mobil ber12 kami meluncur pulang. Dan di tengah jalan di sekitar Tol Sentul mobil kami mengalami kecelakaan. Kejadian kecelakaan begitu cepat mobil kamu terbolak balik kea rah tol berlawanan dengan sangat keras. Beruntung saya dan beberapa anggota keluarga selamat. Hanya saja kami kehilangan 3 orang yang kami cintai itu. Om Nunu dan sepupu saya berumur 3 tahun Adisty dinyatakan meninggal di rumah sakit PMI Bogor. Di depan mata saya 2 orang itu pergi. 

Sebelumnya di TKP maghrib sore itu saya lihat Ayah saya hanya memandang kea rah langit tanpa bergeming, sepertinya gegar otak. Saya hanya bisa panik. Ia dibawa ke rumah sakit UKI dan keadaan Ayah saya sedang kritis, saya hanya berani melihatnya dari pintu, saat itu pukul 9.30 saya hanya berdiri melihat dokter yang panic sIbuk menangani Ayah saya. Saya akhirnya dibawa pulang ke rumah karena takut kelelahan. Sebelum pulang saya bertanya apa Ayah saya akan baik-baik saja. Semua bilang ia pasti baik-baik saja. Dengan teramat sedih pagi hari setelah itu saya dikerubungi saudara-saudara. Mereka hanya bilang “Jangan sedih ya, Papa kamu udah ga ada semalam jam 10 meninggal dunia”. Sedih bukan main saya menangis sejadi-jadinya. Saya menyesal betul kenapa malam itu saya pulang, kenapa saya hanya berani berdiri di depan pintu tanpa melihat Ayah saya terlebih dahulu dari dekat. Karena itu kali terakhir saya melihatnya. Itu kali terakhir saya bisa melihat ia bernafas.  Lalu saya di bawa ke rumah saya di kawasan Pamulang karena sebelumnya saya di rumah Nenek di Jakarta timur. Saya menyusul Jenazah Ayah saya yang dimandikan dan di shalatkan di sana. Di masjid guru saya membukakan kain kafan yang sudah diikatkan, saya harus melihat wajah Ayah saya untuk terakhir kali. Subhanallah, Papa senyum :’)
Artinya dia pergi dengan tenang, InsyaAllah.

Hari itu dia dimakamkan bersamaan dengan Om Nunu dan Adisty di makam yang bersebelahan satu sama lain. Saya ingat kala itu yang hadir banyak sekali, banyak sampai saya tidak bisa hitung berapa bis dan mobil yang datang ke sana, sampai para tukang becak yang dulu akrab makan bareng Ayah saya di warteg datang jauh dari Pamulang ke Jakarta Timur. Saya yakin, Ayah saya orang baik. Ia diantar oleh kerabat dan kawan yang sungguh mencintai dia. Menghargai kebaikannya dan mereka kehilangan Ayah saya juga. Dan saya yakin Ayah saya di surga. Ia seorang mualaf taat yang baru 11 tahun menjadi muslim. Ibaratnya ia seperti anak yang baru 11 tahun lahir. Semoga Allah menjaganya di surga sana :)

Semoga Allah menjaga Om Nunu dan Adisty juga di sana. Selamat jalan kalian, yang tenang di sana :)

#170898

Selasa, 28 Juni 2011

Hai kau yang jauh di sana,

Jauh tapi tetap terasa di sini, di lubuk dalam yang tak berhenti berdetak.



Hai kau yang selalu tenang,

Tak sedikit pun  membuat aku gamang, kau layaknya perisai yang menemani pedang untuk berperang



Hai kau yang ingin sekali kupeluk,

Andai diperkenankan, aku ingin di sana sambil memelukmu erat sampai hilang semua penat




Senin, 28 Maret 2011

harap dan mimpiku untuk nanti

dahulu, beribu hela nafas yang terengah menatap satu ruang kosong yang tak juga bisa kau hapus.
membuat aku kehilangan berjuta detik harap yang bisa kumanfaatkan lebih dari sekedar menatap ke belakang pundakmu.

aku terengah, tapi masih kuat berlari, mengejar seseorang yang mungkin bisa membuatku berhenti berlari.
paling tidak mampu membuatku berjalan cepat bersama dan mulai bermimpi.

hal yang tak patut kusesali saat aku hanya bisa meratapi ruang kosong itu tanpa aku tau kapan akan terisi dan semua penantian berakhir.

aku hanya jalani, mungkin Tuhan memilihkan aku jalan yang jauh lebih baik daripada bersamamu

semoga yang ada di sampingku saat ini, adalah ia yang pantas kutitipkan harap dan mimpiku untuk nanti.

Senin, 21 Februari 2011

terimakasih atas hadirmu yang kebetulan membuat hatiku kelimpungan

hadirnya benar-benar secara tidak sengaja
mungkin saat aku tak berharap banyak atas cinta

aku melihat sosoknya yang tida rumit
membuatku akhirnya teramat nyaman pada sosoknya yang sungguh sederhana

aku ingat sepenggal kata dari seorang penulis puisi bahwa " kenyamanan itu bisa mengalahkan cinta yang sebenarnya, ia datang atas nyaman yang sungguh dalam"
aku nyaman atas hadirnya, dan membuat cinta itu serasa lebih besar dari sebelumnya




terimakasih atas hadirmu yang kebetulan membuat hatiku kelimpungan :D

Senin, 24 Januari 2011

aku tak akan menyangkal takdir kita, tuan.

saat itu aku memang harus berkata iya pada alibimu tanpa ragu sedikit pun, dan kututupi rasa kecewaku di depanmu.

ya hanya demi membuatmu mengerti bahwa aku berusaha memahami setiap keluh hatimu.

aku selalu titipkan harapku dalam setiap bait doa yang kubisikkan pada Tuhan atas kamu.

kubiarkan semuanya mengalun dan mengalir, melodi itu merdu untukmu tapi terdengar sendu bagiku.

aku tak akan menyangkal takdir kita, tuan.

kecewa memang, tapi saya tidak pernah berhenti berharap akan kuasa Tuhan yang baik untuk kita.

ditempatkan sebagai apapun dalam dunia kita, semua pasti akan berharga.