Senin, 08 September 2014

Menapakkan Kaki Untuk Pertama Kali, Menanjak Hingga Ujung Prau



Seumur hidup saya hanyalah seorang hikkers pecundang, menaiki bukit saja sudah cukup buat saya. Pemalas lebih tepatnya. Ingin sekali mengabadikan lansekap ciamik tapi tanpa usaha berlebihan yang menguras banyak tenaga.

Ketika kawan di kantor mengajak saya untuk mendaki gunung di Jawa Tengah, saya langsung mendaftarkan diri dengan percaya dirinya. Tahu medannya juga tidak, tapi tak ada salahnya mencoba bukan?


Jumat malam, beberapa jam sebelum kami berangkat, sebagian dari kami masih sibuk dengan tumpukkan pekerjaan di kantor. Agak deg-degan karena beberapa dari kami masih belum menyelesaikannya pukul 12 malam, sedangkan kereta kami akan berangkat jam 5 subuh. Untungnya kami tepat waktu, berangkatlah kami dari Stasiun Pasar Senin menuju Stasiun Purwokerto.

Kami menempuh perjalanan dengan kereta selama sekitar 4 jam sampai Stasiun Purwokerto. Menggunakan kereta ekonomi AC “ “. Sepanjang perjalanan tak terhitung berapa kali kita bangun dan tidur lagi.


Sesampainya di Stasiun Purwokerto kami langsung bergegas mencari kendaraan yang bisa menampung kami berdua belas menuju Wonosobo.  Kami masih harus menempuh perjalanan darat selama 5 jam ke sana.



Sesampainya di desa Dieng, kami mendaftar di base camp kemudian menuju Gunung yang jadi tujuan kami yaitu Gunung Prau. Suasana hari kemerdekaan membuat desa tersebut dipenuhi pendaki gunung yang berniat merayakan tujuh belas agustus di atas gunung. Kami memutuskan mendaki di malam hari melalui jalur Tapak Banteng setelah adzan maghrib agar tidak terasa jauh treknya.




































Kebanyakan dari kami adalah pendaki pemula, menyebabkan kami memperlambat laju tim sampai ke puncak. Normalnya pendakian menurut beberapa orang ke puncak Gunung Prau adalah 2 – 4 jam, tapi kami menempuh 5 setengah jam. Ditambah lagi, menurut beberapa orang jalur lebih berat karena sedang kemarau, tanah tidak stabil.

Dekat puncak kami harus melalui jalur tanpa pijakan kaki karena tanah merosot, hanya bisa mengandalkan seutas tali hitam.

Untunglah meskipun kami menapaki kaki untuk pertama kali, tapi kami berhasil menanjak hingga ujung Prau.

Kami langsung mencari spot enak untuk membangun kemah, ramai bukan main puncak Prau malam itu. Tentunya dingin bukan main juga. Suhu mencapai 1 derajat celcius malam itu. Kemudian kami makan malam dan tidur. Esok harus mengejar sunrise.


Selamat pagi Gunung Sindoro dan Sumbing dari atas Prau
























Pagi itu semua yang berada di puncak juga merayakan  hari kemerdekaan republik Indonesia. Beberapa ada yang melakukan upacara sambul menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera merah putih.












Happy Independence Day, Indonesia!












Pagi itu kami menikmati pemandangan pagi di atas Prau, memasak perbekalan yang seadanya seperti Mie dan Sosis. Seru!







































Cuaca siang hari cukup cerah, agak panas dibanding keadaan malam hari. Bahkan kita masih bisa melihat bulan dari atas gunung dengan ketinggian 2565 mdpl ini.













Sayangnya kami hanya punya waktu sebentar menikmati pemandangan indah di atas sana. Pukul 10 kami harus berkemas karena harus mengejar kereta pukul 9 malam di Stasiun Purwokerto.


Mengingat trek naik yang tak bersahabat bagi pemula macam kami ini, kami memutuskan mencari jalur lain. Setelah bertanya ke beberapa rombongan pendaki, kami melalui jalur turun menuju Candi Dieng. Menurut beberapa pendaki jalur ini agak jauh, namun lebih landai dan tidak seberat jalur naik. Perkiraan turun sekitar 6 jam jalan kaki. Lumayan.

Tapi tentu terbayar dengan pemandangan jalur pulang yang sangat bagus. Kami melewati bukit-bukit, pendaki menyebutnya Bukit Telettubies.

















































Masih ¾ perjalanan, pasukan sudah kelelahan bukan main. Perbekalan dan air minum nyaris habis. Panas terik siang itu menguras tenaga kami juga. Beberapa dari kami tertinggal di belakang karena lelah membawa perlengkapan yang banyak. Jarak tempuh kami sampai di terminal Dieng 7 jam. Melelahkan.

Sampai di terminal yang kami cari adalah tempat makan dan mandi. Sambil menunggu bus sewaan kami beristirahat di warung dekat situ.

Untuk perndakian pertama bagi saya ini mengangetkan tapi sangat menyenangkan. Saya jadi ketagihan.

Terima kasih teman-teman #NRD2GO atas perjalanan seru ini.
Semoga bisa ikut diperjalanan berikutnya.























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar